Ikuti kami di Sosial Media

Ikuti Sosial Media Kami

Angkatan V Cikal Bakal Tentara Merah PKI


 ANGKATAN KELIMA, 
CIKAL BAKAL TENTARA MERAH PKI

Pemberangkatan Sukarelawan Dwikora ke Perbatasan Malaysia


Oleh : Andri Pramono

Sebelum Gerakan tiga puluh September tahun 1965 meletus, sempat ada isu panas soal angkatan kelima. 

Angkatan kelima adalah milisi yang terdiri dari kaum buruh da
n tani yang dipersenjatai. Ide ini dimunculkan Partai Komunis Indonesia atau PKI yang didukung penuh Partai Komunis Cina Kuo Chan Tang.


Awal 1965, Cina mendorong Presiden Sukarno untuk merealisasikan pembentukan Angkatan Kelima. Dimana Cina siap memberikan bantuan persenjataan untuk Indonesia. Para pemimpin Cina merasa Angkatan Kelima di Indonesia, perlu ada untuk mengimbangi agresi Kaum Imperialis Barat yang sedang aktif dalam ekspansinya di Asia Tenggara. Ini terkait pembentukan negara Federasi Malaysia. 

Sejak 1963, Cina sendiri mempunyai rencana strategis untuk mempromosikan revolusi komunisnya di kawasan Asia Tenggara.

Dan pada Januari 1965, untuk memperhebat semangat ganyang malaysia, Ketua Central Comite PKI, DN Aidit mengusulkan ide Angkatan Kelima ke Bung Karno. 

Disebut angkatan kelima, karena hal itu diluar 4 matra angkatan yang telah ada, yaitu Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Angkatan kepolisian. 

PKI memperkenalkan Angkatan Kelima ini, sebagai pendukung ide Bung Karno tentang Nasakom (Nasionalis Agama Komunis). Karenanya Angkatan Kelima, nantinya selain dari kaum komunis, juga bakal berasal dari kaum nasionalis dan kelompok agama.

Meski demikian, pemimpin PKI sudah memiliki angan-angan yang nantinya Angkatan Kelima itu, bakal menjadi alat PKI untuk menghadapi rivalnya dan untuk meraih kekuasaan. 

Aidit sendiri pernah mengatakan di Harian Rakjat bahwa setidaknya ada 10 juta petani dan 5 juta buruh yang siap dipersenjatai demi suksesnya pembentukan Angkatan kelima yang dijamin setia pada Nasakom.


Sementara pada tahun 1960-an, Awalnya, Cina masih menolak membantu persenjataan untuk Indonesia. Namun, pada paruh akhir 1964, seiring menguatnya pengaruh Cina pada Partai Komunis Malaya dan Partai Komunis Indonesia, Cina mulai melirik dan antusias membantu Indonesia secara militer, dengan dalih menyokong proyek Ganyang Malaysia. Bahkan, pada Januari 1965, Cina secara sukarela mengajukan penawaran bantuan untuk memberikan senjata ringan pada Indonesia. 

"Sekarang kami bisa memproduksi senjata ringan dalam jumlah banyak untuk infantri. Bila Anda butuh senjata, kami bisa membantunya. begitu juga bila Angkatan Laut atau Angkatan Udara Anda butuh suku cadang, jangan sungkan untuk mengutus staf Anda ke Cina untuk mencarinya. Tapi, sekarang ini Persenjataan yang paling penting adalah senjata ringan untuk menghadapi musuh dalam jarak 200 meteran," kata Ketua Partai Komunis Cina, Mao Zedong, dalam pertemuan dengan Subandrio.

Dan pada Februari 1965, Subandrio memberi tahu bahwa Bung Karno telah menyetujui bantuan senjata yang ditawarkan China tersebut. 

Menanggapi hal itu, Perdana Menteri Republik Rakyat Cina, Zhou En Lai kepada Wakil Perdana Menteri Republik Indonesia dokter Subandrio, sebagaimana tercantum dalam 'Buletin Diplomatik Kunjungan Pertama Wakil Perdana Menteri Indonesia Subandrio dan Negosiasi Bilateral' tertangal 2 Februari 1965 menyatakan:


"Proposal dari Presiden Sukarno untuk memiliterisasi massa sungguh tepat. Presiden Anda adalah Pemimpin Tertinggi Angkatan Bersenjata Laut, Darat, Udara, dan Kepolisian. Dan perlu ada angkatan tambahan berupa suatu milisi. 

Dan Sukarno perlu menjadi komandan tertinggi dari milisi itu. Tentu saja, ini harus didirikan secara bertahap. Milisi bisa mempertahankan Tanah Air, udara, dan perairan. Juga, karena milisi terdiri dari rakyat sipil, maka itu bisa lebih mudah melakukan perang gerilya di Kalimantan Utara... massa yang dipersenjatai bakal tidak terlihat... Saya berbagi pengalaman kepada Anda. Silakan sampaikan ini kepada Presiden anda"


Atas pernyataan Zhou En Lai, Presiden Sukarno pun mengklaim bahwa untuk pembentukan Angkatan Kelima, setidaknya 21 juta relawan telah mendaftar dengan sukarela sejak tahun 1964 lalu. karenanya, utusan khusus akan segera dikirimkan Bung Karno untuk merealisasikan bantuan senjata cina itu. 

Namun pada kenyataannya, utusan itu tak juga dikirimkan presiden sukarno sampai bulan Juni. Hal itu disebabkan, gara-gara isu Angkatan Kelima memicu penolakan keras dari militer, terkusus Angkatan Darat.

Dimana menanggapi ide pembentukan Angkatan kelima, pimpinan ABRI ternyata menolak dan menanggapinya dengan negatip. Menteri Koordinator Bidang Pertahanan Keamanan yang juga merangkap Kepala Staf ABRI Jenderal Abdul Haris Nasution secara blak-blakan mengungkapkan ketidakmungkinan atas pembentukan Angkatan Kelima itu.

"Tidak mungkin untuk bekerja, bila komandannya harus dari PNI, kemudian wakilnya dari kelompok agama atau kelompok komunis, dengan diawasi para komisaris militer dari partai masing-masing," kata AH Nasution. 

Harian Angkatan Bersendjata milik ABRI menuliskan 'Angkatan Kelima Tidak Cocok untuk Kondisi Objektif di Indonesia'.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Menteri Panglima Angkatan Darat, Letnan Jendral Ahmad Yani yang menegaskan bahwa pembentukan Angkatan kelima dianggapnya tidak efisien. "Kalau untuk milisi pertahanan rakyat kita kan sudah ada hansip, mengapa tidak itu saja" kata yani.


Sementara berbeda dengan Angkatan Darat, Angkatan Udara justru mendukung ide pembentukan Angkatan Kelima. Menteri Panglima Angkatan Udara, Laksamana Madya Omar Dani menyokong penuh kebijakan presiden Sukarno itu. Dhani sudah membayangkan betapa besar kekuatan rakyat bila dipersenjatai. Karenanya, Dhani membuka diri untuk memberikan pelatihan militer bagi para sukarelawan Dwikora yang disebutnya akan dijadikan Angkatan kelima.

Lebih lanjut, Menpangau Omar Dhani menyampaikan ke atase militer RRC di Jakarta, bahwa angkatan bersenjata berniat akan memiliterisasi warga dalam jarak 50 kilometer dari Pangkalan Udara Halim. Dhani mengatakan, Indonesia membutuhkan segera 25 ribu senjata cung dari total 100 ribu senjata yang dijanjikan Cina. 

Rencananya, senapan itu akan diperuntukaan bagi ribuan sukarelawan dwikora yang telah mengikuti pelatihan militer di Pangkalan Udara Halim, Jakarta Timur. 

Dan pada 17 September 1965, Cina menyanggupi ketersediaan 25 ribu senjata ringan tersebut, dengan syarat transportasi ditanggung Indonesia. 

Omar dhani menyanggupinya, meski kenyataannya dengan pesawat Herkules, omar dhani hanya mampu membawa 3000 pucuk senapan, itupun senapannya ternyata bekas dari Tentara Pembebasan Rakyat, saat perang saudara antara Kaum Komunis (Kuo Chan Tang) melawan kaum Nasionalis (Kuo Min Tang).

Tentu butuh waktu untuk merakit senjata dan kemudian mengemasnya untuk dikirim ke Indonesia, sementara operasi G tiga puluh S telah keburu digelar. 

Dan setelah kegagalan Gerakan Tiga puluh September, dengan diikuti pergantian pemerintahan dari Sukarno ke Suharto. hubungan diplomatik antara Indonesia - Cina menjadi memburuk. Hal itu, menyusul adanya tudingan dari pemerintahan Jendral Suharto, atas keterlibatan Cina dalam upaya kudeta PKI dan campur tangan masalah dalam negeri Indonesia.

Menanggapi tudingan pemerintahan Suharto, Pemerintah Cina membantah keras bahwa telah membantu PKI untuk mendukung aksi revolusioner mereka. Cina menyatakan, kebijakan dukungan pemberian senapan ringan itu, ditanda tangani secara resmi dalam Memo of Understanding antara Pemerintah Cina dengan pemerintahan sah Indonesia, bukan antar partai. 

Meski cina telah membantahnya, namun Pemerintahan Jendral Suharto tidak mau tahu atas alasan cina tersebut, sehingga hubungan diplomatik antar kedua negarapun dibekukan. 



Itulah kisah sejarah yang disarikan dari tulisan ilmiah Tao mo Zhou, yang dimuat dalam Jurnal Indonesia Volume 98, tahun 2014, terbitan Cornell University South east Asia Program, dan ditambah dari beberapa sumber lainnya.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Angkatan V Cikal Bakal Tentara Merah PKI"

Posting Komentar